Melihat Pembuatan Kain Sutra di Rumah Sutera Ciapus Bogor

April, mau pergi ke Rumah Sutera tidak? Pakai aja tiketku, enggak usah diganti.” Tanya Putu Sukartini (Mbak Arni) pemilik blog www.emakcihuy.com kepada saya awal Januari 2017 lalu. Saya pun enggak ragu menjawab “mau”, donk. Siapa yang menolak diberi tiga tiket untuk sebuah acara edukasi sekaligus piknik? Hehehe.

Sebenarnya, beberapa hari sebelumnya Mbak Arni sempat menginformasikan di grup WhatsApp yang kami ikuti bersama, kalau ada acara kunjungan ke Rumah Sutera. Tapi, tiketnya cepat habis, meskipun acara sudah dibagi menjadi dua hari. Kalau tidak salah waktu itu hari Jumat dan Sabtu, tanggal 6 dan 7 Januari. Mbak Arni awalnya mau mendaftar untuk hari Jumat, ternyata full booked, sehingga kebagian hari Sabtu. Apalagi, saya yang baru tahu infonya, malah enggak dapet. Ternyata, menjelang hari H, suami Mbak Arni, mendadak ngajakin istrinya “honeymoon” ke Bali (hihihi). Mbak Arni sekeluarga pun batal ikut acara di Rumah Sutera, lalu tiketnya dihibahkan ke saya. Tengkyuuu, Mbak Arni 🙂 .

Rumah Sutera Ciapus Bogor nampak depan.

Acara kunjungan ke Rumah Sutera digagas oleh SHINE Learning Center (SHINE). SHINE merupakan sebuah organisasi sosial dan kewirausahaan yang bermitra dengan institusi-institusi pendidikan dan juga organisasi-organisasi pendukung lainnya di seluruh dunia untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia, dengan cara melakukan empowering para pendidik di Indonesia melalui berbagai platform baik online maupun offline. Salah seorang yang saya kenal dari SHINE adalah Ines Setiawan (Mbak Ines), yang kebetulan juga founder-nya. Waktu itu, saya melakukan konfirmasi, apakah saya perlu menambah tiket lagi untuk kunjungan ke Rumah Sutera? Mengingat tiketnya kan cuma tiga, sedangkan anggota keluarga saya empat orang. Nah, akhirnya saya berkenalan dengan Mbak Ines. Tapi, sayangnya karena rempong sama anak-anak, saya enggak banyak berbincang dengan Mbak Ines saat ketemu di acara kunjungan itu 🙁 .

Sutra atau Sutera?

Oh, iya, sebelumnya, maaf saya sempilin juga di tulisan ini, ya? Mungkin ada yang bertanya yang bener “sutra” apa “sutera”. Setelah ceki-ceki di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, sih, yang benar adalah “sutra”. Sutra adalah benang halus dan lembut yang berasal dari kepompong Bombyx morri alias ulat sutra. Sedangkan nama tempat yang kami kunjungi adalah Rumah Sutera. For your information (FYI), Rumah Sutera merupakan sebuah tempat untuk pendidikan dan pelatihan persuteraan alam.

Rumah Sutera, tempat belajar persutraan alam di Bogor

Rumah Sutera terletak di Jl. Ciapus Raya No 100, Batu Gede, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Sekitar 8 km jauhnya dari Kota Bogor. Rumah Sutera ini telah berdiri sejak tahun 2003. Kita bisa melihat proses pembuatan kain sutra dari mulai berbentuk telur ulat, sampai menjadi selembar kain sutra berkualitas 100% alam di sana. Selain itu, kita juga bisa berjalan-jalan di kebun murbei yang luas yang berlokasi di tempat yang sama. Lho, emang ada hubungan antara ulat sutra dengan murbei? Ya, pasti ada, kan, ulat sutra makanannya berupa daun murbei 😀 .

Pendiri Rumah Sutera adalah sepasang suami istri Tatang Gozali Gandasasmita seorang pensiunan pegawai PT Perkebunan Nusantara VIII dan istrinya Ani Gozali (Eyang Tatang). Pasangan suami istri sebenarnya tidak sengaja mendirikan Rumah Sutera. Awalnya, Eyang Tatang dan istri memiliki rumah yang difungsikan sebagai rumah peristirahatan, yang sekarang menjadi Rumah Sutera. Namun, suatu hari Eyang Tatang berkenalan dengan Dr. Yunus yang merupakan salah satu pakar sutra sekaligus pemilik salah satu perusahaan penghasil kain sutra terbesar di Asia Tenggara. Dr. Yunus menawarkan kepada Eyang Tatang sebuah kebun Murbei. Selanjutnya, Eyang Tatang bersama istri yang memiliki skill bercocok tanam menjadi petani murbei dan memasok makanan untuk ulat sutra di perusahaan Dr. Yunus.

Eyang Ani Tatang (tengah) dan Mbak Ines (kanan). Sumber foto: Ines Setiawan.

Enam bulan setelah Eyang Tatang menjadi petani murbei, tiba-tiba perusahaan tersebut mengalami kemunduran. Perusahaan tersebut kemudian menjual semua bahan dan alat pembuatan kain sutranya, diantaranya puluhan ton kepompong yang siap diolah. Eyang Tatang kemudian membeli sebagian kecil kepompong. Eyang Tatang sempat bingung, mau diapakan kepompong-kepompong itu. Hingga pada suatu hari ada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari luar negeri mengajukan sebuah alat supaya kepompong milik Eyang Tatang bisa dipintal menjadi benang. Eyang Tatang pun menyetujui pengajuan tersebut. Singkat cerita, kemudian Eyang Tatang membuat rumah peristirahatannya menjadi Rumah Sutera seperti sekarang.

Berbagai fasilitas yang terdapat di Rumah Sutera.

Fasilitas yang terdapat di Rumah Sutera antara lain rumah pemeliharaan ulat sutra, tempat pemintalan benang dan penenunan kain sutra dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATMB), cottage, aula serba guna, kolam renang, galeri, play ground anak-anak, dan taman dengan koleksi tanaman hias dan langka.

Daun murbei, makanan Si Bombyx morri

Saat mengunjungi Rumah Sutera kami dipandu oleh Pak Ridho dan beberapa pemandu yang lain. Pak Ridho ini adalah seorang Staff di Pemkab Sukabumi bagian Pertanian. Pak Ridho sudah bekerja di bidang persutraan selama 24 tahun lamanya. Sebelumnya, semua peserta dikumpulkan di sebuah aula untuk menyimak penjelasan dari Pak Ridho tentang ulat sutra. Sebagai pendahuluan, Pak Ridho menjelaskan tentang makanan Si Bombyx morri alias ulat sutra, yakni daun murbei.

Pak Ridho menjelaskan tentang ulat sutra.   

Tanaman murbei memiliki nama latin Morus SP. Tanaman yang buah dan daunnya bisa dikonsumsi oleh manusia ini berasal dari Cina. Menurut Pak Ridho, ulat-ulat sutra hanya mau makan daun murbei. Pernah, ada yang mencoba memberi makan daun-daunan yang lain, ternyata ulat sutra tidak mau. Selain hanya mau makan daun murbei, ulat sutra terutama yang masih bayi juga picky eater. Mereka hanya mau makan daun yang masih muda, sebab mengandung kadar air yang sangat tinggi. Daun-daun murbei yang masih muda itu nanti dibersihkan, lalu diiris-iris sampai cairannya keluar, baru ulat sutra yang masih kecil mau makan. Setelah dewasa, ulat sutra itu makan sendiri. Meski demikian, Pak Ridho juga menjelaskan bahwa ulat sutra yang sudah dewasa tidak boleh makan pucuk daunnya, nanti bisa mencret.

Tamanan murbei sebenarnya banyak jenisnya. Namun, menurut Pak Ridho yang bisa bertahan di Indonesia hanya sekitar lima jenis saja akibat adaptasi iklim. Tanaman murbei yang bisa hidup di Indonesia adalah tanaman murbei dari India (kanfa), Jepang (cathayana dan multicaulis), dan Thailand (kunpay). Selain itu, ada pula yang tanaman murbei asli Indonesia (lembang). Saat tumbuh di Indonesia, ada perbedaan bentuk dari tanaman murbei tersebut. Misalnya multicaulis, kalau tumbuh di Jepang seharusnya bentuk daunnya bulat, namun ketika tumbuh di Indonesia ujung daunnya meruncing.

Memetik buah murbei di kebun seluas dua hektar.

Selain bagus buat ulat sutra, ternyata daun murbei juga baik untuk manusia. Biasanya dimakan sebagai lalapan. Daun murbei memiliki khasiat baik untuk manusia, karena bisa menyembuhkan beberapa penyakit, seperti: sembelit, diabetes, kolesterol, asam urat, dan beberapa jenis penyakit lainnya.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang tanaman murbei, Pak Ridho dan pemandu lainnya mengajak para peserta ke kebun murbei seluas dua hektar di belakang Rumah Sutera. Kebetulan, tanaman murbei sudah ada yang berbuah, jadi kami boleh memetik buah murbei sepuasnya. Ternyata, enggak mudah menemukan buah murbei. Beberapa peserta sampai kelesotan di tanah buat ngintip mana tanaman murbei yang berbuah, hehe.

Ulat sutra, dari kepompong menjadi kain berkualitas

Pak Ridho mengatakan kalau mau membudidayakan ulat sutra syaratnya pertama punya tanaman murbei untuk pakan ulat sutra dan kedua harus punya ulat sutra untuk dipelihara dan dikawinkan dalam penangkaran. Namun, untuk syarat yang kedua ini, tidak semua orang boleh melakukan penangkaran. Sebab, untuk melakukan penangkaran sendiri sangat sulit, butuh waktu dan biaya. Di Indonesia, hanya dua tempat yang boleh menangkar ulat sutra, itu pun harus di bawah pengawasan Kementrian Kehutanan Repubik Indonesia, yakni di Kesatuan Pengusahaan Sutra Alam (KPSA) Soppeng Sulawesi Selatan dan di Pusat Pembibitan Ulat Sutra (PPUS) Candiroto dekat Semarang.

Di tempat penangkaran tersebut, ulat sutra jantan dan betina dikawinkan. Dari metamorfosis sempurna saat perkawinan, ulat sutra menghasilkan sekitar 400-500 butir telur. Setelah menghasilkan telur, ulat sutra betina biasanya akan mati. Rumah Sutera boleh memesan dan membeli telur-telur ulat sutra tersebut. Biasanya dalam bentuk box kecil seberat 15 gram berisi 25.000 butir telur ulat sutra. Rumah Sutera memiliki ijin untuk tempat penetasan dan pengeraman telur ulat sutra. Tingkat keberhasian daya tetas di Rumah Sutera sekitar 90-95%.

Setelah telur-telur ulat sutra tersebut menetas maka bayi-bayi ulat sutra tersebut harus dirawat dan diberi makan. Di Rumah Sutera terdapat Rumah Ulat Kecil (RUK) dan Rumah Ulat Besar (RUB). Kalau berada di RUK (tempat bayi ulat sutra) kita dilarang berisik dan memakai wewangian berlebihan, sebab nanti bayi-bayi ulat sutra bisa stress. Mirip-mirip kalau kita berada di ruangan bayi di rumah sakit bersalin, ya? Pengunjung enggak boleh berisik, hehe. Saat kunjungan hari itu, kami kebetulan hanya masuk ke RUB. Biasanya ulat sutra akan berada di RUK saat berusia 1-13 hari. Lalu, pindah ke RUB saat usianya 14 hari sampai satu bulan.

Sejak ulat sutra menetas, ada lima fase dalam kehidupan mereka:

  • Fase ke-1: bayi ulat sutra makan empat kali dalam sehari, misalnya pukul 07.00, 11.00, 15.00, dan 19.00 selama empat hari empat malam. Pada hari keempat pukul 12.00 siang ulat sutra enggak mau makan. Mereka akan tidur selama seharian penuh.
  • Fase ke-2: pada hari kelima, ulat sutra makan lagi dengan siklus seperti fase pertama, makan sebanyak 16 kali. Lalu, pada hari ke-8 tidur lagi seharian.
  • Fase ke-3: hari ke-9 makan lagi seperti fase pertama dan kedua. Lalu, pada hari ke-12 tidur seharian.
  • Fase ke-4: hari ke-13 makan lagi 16 kali seperti fase pertama, kedua, dan ketiga, lalu hari ke-16 tidur lagi, namun kali ini lebih lama, sekitar 46-48 jam.
  • Fase ke-5: 10 hari 10 malam mereka makan terus-menerus sampai akhirnya berhenti karena ulat sutra akan membuat kepompong.

Ciri-ciri ulat yang akan membuat kepompong antara lain:

  • Tubuh ulat sutra yang tadinya berwarna putih akan menjadi seperti bening.
  • Mulutnya mengeluarkan cairan (feritin dan febroid).
  • Kalau sudah begitu, maka kita bisa menyediakan alat pengokonannya, nanti ulat sutra akan bersandar dan naik sendiri seperti spiderman. Setelah memanjat dan bersandar di alat pengokonan, ulat sutra akan membentuk kepompong. Biasanya butuh waktu tiga hari untuk menjadi kepompong.

Kepompong-kepompong tersebut dibiarkan selama satu minggu di tempat pengokonan, baru dipanen. Setelah dipanen kepompong-kepompong tersebut direbus supaya zat feritin (perekat/ lilin) hilang. Setelah direbus, kepompong-kepompong tersebut didinginkan dalam air dingin sebentar baru siap dipintal menjadi benang. Sedangkan pulpa ulatnya biasanya dibiarkan untuk dikonsumsi manusia. Katanya bagus buat kesehatan, lho.

10 kg kepompong akan menghasilkan 1 kg benang sutra. 1 kg benang sutra tersebut akan menghasilkan 10 meter kain sutra.” (Pak Ridho).

Satu buah kepompong ulat sutra jika dipintal menjadi benang akan menghasilkan benang sutra sepanjang 800-1200 meter. Itu yang dihasilkan oleh ulat sutra di Indonesia yang masuk pada grade C dan D. Kalau nenek moyangnya yang di Cina sana, kepompongnya bisa menghasilkan benang sepanjang 2000-2400 meter. Memang asal ulat sutra dari Cina, maka tak heran jika kain sutra Cina masuk grade A dan kualitasnya bagus. Meski demikian, kain sutra yang dihasilkan di Indonesia pun tak kalah bagusnya. Dan, sebagai orang Indonesia, kita pun harus mau donk mendukung produk asli Indonesia 🙂 .

Ulat sutra, dari kepompong menjadi kain sutra berkualitas.

Galeri Rumah Sutera

Setelah puas memetik buah murbei, melihat ulat-ulat sutra, belajar cara mengolah kepompong menjadi benang, serta melihat cara memintal benang sutra menjadi kain, peserta dibawa ke galeri. Di sana ada terdapat produk-produk dari ulat sutra seperti scarf, baju, gantungan kunci. Galeri tersebut juga menjual teh dari daun murbei yang bagus untu kesehatan. Ada pula kepompong-kepompong yang sudah enggak ada ulatnya dijual seharga Rp. 1.000,- saja. Kepompong tersebut bisa buat scrub, lho. Tinggal dicelup ke air hangat lalu digosokkan ke wajah, kotoran-kotoran yang menempel di wajah pun menghilang, deh.

Ada yang berminat untuk mengetahui tentang persuteraan alam juga? Monggo, main ke Rumah Sutera sendiri. Aksesnya dari stasiun Bogor ke Rumah Sutera bisa naik taksi online cukup bayar sekitar Rp. 40.000-50.000,- saja atau naik angkutan umum jurusan Ciapus. Nanti, turun tepat di depan Rumah Sutera (seberang bakso Mas Pri). Kalau datang berombongan/ sekeluarga lebih enak, kita bisa menginap juga di Rumah Sutera. Kata salah seorang bapak pemandu, rate penginapannya  sekitar Rp. 1.000.000,- per malam untuk 7-8 orang. Sedangkan, untuk biaya kunjungan saja sekitar Rp. 30.000,-/ orang, nanti akan ada paket tour dengan pemandu.

Info lebih lengkap mengenai kunjungan ke Rumah Sutera bisa menghubungi nomor telepon 0251-8388227 atau website-nya www.rumahsuteraalam.com. Yuk, belajar tentang persutraan alam!

April Hamsa

Sumber referensi tulisan:

  • dhikasprivate.blogspot.co.id
  • Facebook Ines Setiawan (SHINE)
  • rumahsuteraalam.com

23 Replies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *